Medicalnews – Pasar produk kecantikan dan perawatan tubuh di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif. Masyarakat kini memberi perhatian lebih besar pada perawatan diri dan kesehatan kulit. Tren ini mendorong peningkatan nilai pasar setiap tahun.
Brand Marketing and Sales Director ERHA Skincare Group, Afril Wibisono, memaparkan proyeksi terbaru industri ini. Ia menyebut nilai pasar beauty and personal care Indonesia akan mencapai 9,7 miliar dolar AS pada 2025. Selain itu, pasar ini tumbuh dengan rata-rata 4,3 persen per tahun.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan perubahan perilaku konsumen. Konsumen kini tidak hanya mencari produk kecantikan. Mereka juga mencari solusi perawatan yang sesuai kebutuhan kulit.
“Baca Juga: Inul Daratista Pingsan, Alami Gangguan Pencernaan“
Skincare Mendominasi Pasar, Perawatan Wajah Jadi Andalan
Kategori skincare menjadi penyumbang terbesar dalam industri ini. Produk perawatan wajah mendominasi sekitar 80 persen dari total pasar. Konsumen fokus pada pembersih wajah, pelembap, serum, dan tabir surya.
Afril menjelaskan bahwa perawatan wajah menjadi prioritas karena masyarakat ingin menjaga penampilan dan kesehatan kulit. Selain itu, media sosial turut memperkuat kesadaran akan pentingnya rutinitas perawatan harian.
Konsumen juga semakin selektif dalam memilih produk. Mereka memperhatikan kandungan, keamanan, dan kecocokan dengan kondisi kulit. Karena itu, merek harus menghadirkan produk yang relevan dan terpercaya.
Sunscreen Tumbuh Pesat karena Kesadaran Perlindungan Kulit
Salah satu kategori dengan pertumbuhan tercepat adalah tabir surya atau sunscreen. Masyarakat semakin memahami pentingnya perlindungan dari paparan sinar matahari. Kesadaran ini meningkat terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia.
Afril menegaskan bahwa paparan sinar matahari terjadi setiap hari. Oleh sebab itu, masyarakat membutuhkan perlindungan rutin. Selain mencegah kulit gelap, sunscreen juga membantu menjaga kesehatan kulit jangka panjang.
Tren ini menunjukkan perubahan pola pikir konsumen. Mereka tidak lagi menggunakan sunscreen hanya saat berlibur. Kini, mereka memakainya sebagai bagian dari perawatan harian.
Tiga Faktor yang Memengaruhi Kondisi Kulit Masyarakat
Afril menjelaskan tiga faktor utama yang membuat kondisi kulit masyarakat Indonesia semakin kompleks. Pertama, variasi kasus kulit yang semakin beragam. Faktor genetik turut memengaruhi kondisi tersebut.
Kedua, polusi udara memberi dampak besar pada kesehatan kulit. Banyak orang tidak menyadari kualitas udara yang buruk setiap hari. Namun, paparan polusi secara terus-menerus dapat memicu masalah kulit.
Ketiga, iklim tropis dengan kelembapan tinggi juga memengaruhi kondisi kulit. Cuaca panas dan lembap dapat memicu jerawat dan iritasi. Kombinasi faktor ini membuat banyak orang mengalami kulit sensitif.
Selain itu, gangguan pelindung alami kulit juga semakin sering terjadi. Kondisi tersebut membuat kulit mudah kemerahan dan terasa tidak nyaman. Karena itu, konsumen membutuhkan produk yang lebih lembut dan aman.
Indonesia Pimpin Pasar Skincare Sensitif di ASEAN
Afril menyatakan bahwa Indonesia menempati posisi pertama di ASEAN untuk pasar skincare kulit sensitif. Posisi ini muncul karena faktor genetik, lingkungan, dan iklim berperan besar.
Pertumbuhan pasar ini tidak hanya didorong tren kecantikan. Konsumen mencari solusi nyata untuk masalah kulit sehari-hari. Oleh karena itu, pendekatan perawatan berbasis medis semakin berkembang.
Industri kecantikan pun terus beradaptasi dengan kebutuhan tersebut. Perusahaan menghadirkan produk yang lebih terarah dan sesuai kondisi kulit masyarakat. Dengan demikian, pasar kecantikan Indonesia berpotensi terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan.
“Baca Juga: Tips Atasi Kantuk Berlebihan Saat Puasa Pertama“

Buôn bán vũ khí