Medicalnews – Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sehat.
Penyakit tersebut dapat memengaruhi kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga sistem saraf. Karena itu, lupus membutuhkan penanganan dan pemantauan dalam jangka panjang.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi, Sandra Sinthya Langow, menjelaskan bahwa lupus sering mendapat julukan penyakit seribu wajah.
Julukan tersebut muncul karena gejalanya sangat beragam. Selain itu, gejala lupus sering menyerupai penyakit lain.
“Baca Juga: Cycle Syncing: Cara Menyesuaikan Gaya Hidup Saat Haid“
Gejala Lupus Bisa Muncul Secara Bertahap
Sandra menjelaskan bahwa pasien lupus dapat mengalami berbagai keluhan. Beberapa gejala yang sering muncul meliputi kelelahan berat, nyeri sendi, dan ruam kulit.
Selain itu, penyakit ini juga dapat menyerang organ penting seperti ginjal dan sistem saraf.
Menurut Sandra, gejala lupus bisa muncul secara perlahan maupun mendadak. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui penyakitnya setelah terjadi gangguan pada organ tubuh.
Ia menambahkan bahwa perjalanan lupus sering mengalami perubahan. Pada beberapa waktu, gejala dapat memburuk. Namun, pada periode lain, kondisi pasien bisa lebih terkendali.
Karena itu, pasien memerlukan pengawasan rutin agar kondisi tetap stabil.
Jumlah Pasien Lupus di Indonesia Masih Tinggi
Sandra mengungkapkan bahwa jumlah penderita lupus di Indonesia diperkirakan mencapai 1,4 juta orang.
Selain itu, angka kematian akibat lupus juga tergolong tinggi dibanding banyak negara lain. Meski demikian, masih banyak pasien yang belum mendapatkan diagnosis sejak dini.
Kondisi tersebut membuat risiko kerusakan organ semakin besar. Karena itu, kesadaran masyarakat terhadap gejala lupus menjadi sangat penting.
Banyak Orang Menganggap Gejala Lupus Sebagai Keluhan Biasa
Menurut Sandra, keterlambatan diagnosis sering terjadi karena gejala lupus terlihat seperti penyakit umum.
Banyak orang mengira nyeri sendi hanya akibat kelelahan atau asam urat. Selain itu, sebagian orang menganggap ruam kulit sebagai alergi biasa.
Sariawan yang berulang juga sering dianggap masalah ringan. Padahal, kombinasi gejala tersebut bisa menjadi tanda lupus.
Sandra menjelaskan bahwa sekitar 90 persen pasien lupus merupakan perempuan. Sebagian besar pasien berada pada usia 15 hingga 44 tahun.
Faktor hormon diduga berperan dalam tingginya jumlah kasus pada perempuan.
Faktor Lingkungan Dapat Memicu Lupus
Hingga kini, dokter belum mengetahui penyebab pasti lupus. Namun, Sandra menjelaskan bahwa beberapa faktor dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut.
Faktor tersebut meliputi keturunan, hormon, dan lingkungan. Selain itu, paparan sinar matahari berlebihan juga dapat memicu lupus.
Polusi udara, infeksi, kebiasaan merokok, obesitas, dan kekurangan vitamin D juga berpotensi meningkatkan risiko.
Salah satu gejala yang paling sering muncul adalah kelelahan berkepanjangan. Pasien tetap merasa lelah meski sudah beristirahat cukup.
Selain itu, masyarakat perlu mewaspadai rambut rontok, sariawan berulang, demam tanpa sebab jelas, dan nyeri sendi berkepanjangan.
Pemeriksaan Dini Bantu Cegah Kerusakan Organ
Dokter menggunakan kombinasi pemeriksaan fisik dan tes laboratorium untuk menegakkan diagnosis lupus. Salah satu pemeriksaan yang sering digunakan adalah tes ANA.
Sandra menegaskan bahwa diagnosis dini sangat penting. Dengan diagnosis lebih cepat, dokter dapat segera memberikan pengobatan yang sesuai.
Penanganan yang tepat membantu mengurangi risiko kerusakan organ. Selain itu, kualitas hidup pasien juga dapat tetap terjaga.
Meski lupus belum dapat disembuhkan sepenuhnya, pasien tetap memiliki peluang hidup produktif. Saat ini, perkembangan terapi memberikan harapan lebih besar bagi penderita lupus untuk mencapai kondisi yang terkendali dan stabil.
“Baca Juga: Vaksin Penting untuk Dewasa, Ini 6 Rekomendasi Dokter“
