Gaya Hidup,Kesehatan Risiko Kesehatan di Balik Nail Art dan Cat Kuku

Risiko Kesehatan di Balik Nail Art dan Cat Kuku

Risiko Kesehatan di Balik Nail Art dan Cat Kuku

Medicalnews – Nail art dan cat kuku kini menjadi bagian gaya hidup modern.
Tren ini menyasar remaja hingga orang dewasa.
Banyak orang menggunakan nail art sebagai bentuk ekspresi diri.

Selain itu, desain kuku juga meningkatkan rasa percaya diri.
Namun, penggunaan cat kuku rutin menyimpan risiko kesehatan.
Risiko ini sering luput dari perhatian pengguna.

“Baca Juga: Waktu Terbaik Konsumsi Vitamin A agar Manfaat Maksimal“


Cat Kuku Bisa Memengaruhi Kesehatan Kuku

Banyak orang menganggap cat kuku hanya berdampak visual.
Faktanya, Harvard Health Publishing menyoroti dampak jangka panjangnya.

Lapisan cat kuku yang dibiarkan lama membuat kuku kering.
Kondisi ini memicu bercak putih bernama keratin granulations.
Banyak orang salah mengira bercak ini sebagai jamur kuku.

Masalah bertambah saat pengguna memakai penghapus berbahan aseton.
Menurut Yahoo! Health, aseton menghilangkan minyak alami kuku.
Akibatnya, kuku menjadi rapuh dan mudah patah.


Dampak Nail Art pada Kulit Sekitar Kuku

Risiko nail art tidak hanya menyerang kuku.
Kulit sekitar kuku juga menerima dampaknya.

Proses gel nail polish menggunakan lampu UV atau LED.
Lampu ini memancarkan sinar UVA ke kulit tangan.
Paparan berulang meningkatkan risiko penuaan dini kulit.

Selain itu, kandungan kimia cat kuku juga menimbulkan perhatian.
Centers for Disease Control and Prevention mencatat beberapa bahan berisiko.

Bahan tersebut meliputi formaldehida, toluene, dan dibutyl phthalate.
Paparan bahan ini memicu iritasi dan reaksi alergi.
Beberapa studi juga mengaitkannya dengan gangguan pernapasan.


Risiko Lebih Besar bagi Pekerja Salon

Paparan bahan kimia menjadi lebih serius bagi pekerja salon.
Teknisi kuku terpapar produk cat kuku setiap hari.

Data CDC menunjukkan risiko gangguan pernapasan meningkat.
Iritasi kulit juga sering muncul pada pekerja salon.
Paparan jangka panjang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan serius.


Produk 3-Free Tidak Selalu Aman

Kesadaran masyarakat mendorong popularitas produk 3-free dan 5-free.
Label ini mengklaim bebas bahan berbahaya.

Namun, laporan dari Time memberi catatan penting.
Tidak semua produk benar-benar aman sesuai klaimnya.
Beberapa produsen mengganti bahan lama dengan zat baru.
Keamanan zat pengganti ini belum sepenuhnya diteliti.


Peringatan Kementerian Kesehatan RI

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan peringatan khusus.
Kuteks dapat mengandung formaldehida dan phthalates.
Beberapa produk juga mengandung merkuri dan logam berat.

Paparan zat ini memicu gangguan saraf dan pernapasan.
Risiko meningkat jika paparan terjadi berulang.

Kemenkes menyarankan pencegahan sederhana.
Pengguna perlu memilih produk terdaftar BPOM.
Pengguna juga perlu menjaga kebersihan alat manicure.

Selain itu, pengguna sebaiknya memakai minyak kutikula.
Penggunaan tabir surya tangan penting saat gel polish.


Risiko Kesehatan Nail Art & Cat Kuku: Kesadaran Jadi Kunci

Kelompok rentan seperti ibu hamil perlu kehati-hatian ekstra.
Beberapa bahan kosmetik berkaitan dengan gangguan hormon.

Nail art tetap bisa dinikmati dengan bijak.
Pengguna perlu memberi waktu istirahat pada kuku.
Pemilihan produk aman menjaga keseimbangan gaya dan kesehatan.

“Baca Juga: WHO Tekankan Penghapusan Diskriminasi terhadap Penderita Kusta“

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post