Medicalnews – Demam Berdarah Dengue tidak hanya menyerang anak-anak. Penyakit ini juga memberi dampak besar pada kelompok usia dewasa, terutama usia produktif.
Sukamto Koesnoe menjelaskan banyak orang masih menganggap DBD lebih sering menyerang anak-anak. Padahal, orang dewasa juga memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi serius.
Menurutnya, banyak pasien dewasa harus menjalani rawat inap akibat DBD. Kondisi tersebut dapat mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
“Baca Juga: Hipertensi Diam-Diam Ancam Kesehatan Anak Muda“
Orang Dewasa dengan Penyakit Penyerta Lebih Rentan
Sukamto menjelaskan risiko DBD menjadi lebih tinggi pada orang dewasa dengan penyakit penyerta. Beberapa kondisi seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kesehatan lain dapat memperburuk kondisi pasien.
Akibatnya, pasien membutuhkan penanganan medis lebih intensif. Selain itu, masa pemulihan juga bisa berlangsung lebih lama.
Karena itu, masyarakat perlu mulai melakukan pencegahan sejak dini. Langkah sederhana dapat membantu mengurangi risiko kondisi yang lebih parah.
“Baca Juga: Hipertensi Diam-Diam Ancam Kesehatan Anak Muda“
Pencegahan DBD Perlu Dilakukan Setiap Hari
Sukamto mengajak masyarakat menjadikan pencegahan DBD sebagai kebiasaan sehari-hari. Masyarakat dapat memulai langkah pencegahan dari menjaga kebersihan lingkungan.
Selain itu, masyarakat juga perlu mempertimbangkan perlindungan tambahan seperti imunisasi sesuai kondisi kesehatan masing-masing.
Ia juga mengajak masyarakat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui pilihan pencegahan yang tepat.
Perubahan Cuaca Tingkatkan Risiko Penyebaran DBD
Perubahan cuaca dan suhu yang semakin tinggi turut meningkatkan risiko penyebaran DBD. Kondisi tersebut membuat nyamuk pembawa virus dengue lebih mudah berkembang.
Karena itu, pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama melakukan pencegahan secara menyeluruh.
Langkah tersebut mencakup pengendalian lingkungan, edukasi masyarakat, dan penggunaan inovasi kesehatan.
Anak-anak Masih Jadi Kelompok Rentan
Hartono Gunardi menjelaskan DBD pada anak juga perlu mendapat perhatian serius.
Menurutnya, kondisi anak dapat memburuk dengan cepat meski awalnya hanya mengalami demam biasa.
Beberapa gejala awal DBD meliputi:
- demam tinggi mendadak
- sakit kepala
- nyeri otot dan sendi
- mual dan muntah
Namun, kondisi anak dapat berkembang menjadi perdarahan berat dan syok dalam waktu singkat.
Selain itu, beberapa anak juga bisa mengalami kejang dan penurunan kesadaran.
Kasus DBD Banyak Terjadi pada Usia Muda
Data menunjukkan sekitar 75 persen kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5 hingga 44 tahun.
Selain itu, angka kematian tertinggi terjadi pada kelompok usia 5 hingga 14 tahun. Kondisi tersebut dipengaruhi daya tahan tubuh anak yang masih berkembang.
Keterlambatan mengenali gejala juga meningkatkan risiko kondisi menjadi lebih serius.
Karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh sejak dini.
Imunisasi Jadi Salah Satu Langkah Pencegahan
Hartono menjelaskan tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat memahami pilihan pencegahan DBD. Salah satu langkah yang kini tersedia yaitu imunisasi dengue.
Saat ini, imunisasi dengue direkomendasikan untuk anak usia 4 hingga 18 tahun sesuai persetujuan BPOM.
Selain itu, masyarakat juga tetap perlu menjalankan langkah 3M Plus untuk mencegah berkembangnya nyamuk.
DBD pada Orang Dewasa: Edukasi Terus Ditingkatkan
Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, Takeda Innovative Medicines bekerja sama dengan Halodoc.
Kerja sama tersebut fokus meningkatkan edukasi dan akses layanan kesehatan terkait DBD.
Masyarakat juga dapat berkonsultasi dengan dokter melalui platform digital untuk mendapatkan informasi pencegahan DBD secara tepat.
“Baca Juga: Dokter Ingatkan Bahaya HPV yang Sering Tak Disadari“
