Medicalnews – Banyak kasus penyakit jantung di Indonesia terdeteksi saat kondisi sudah berat. Salah satu kondisi yang sering terlambat dikenali adalah aortic stenosis. Penyakit ini menyebabkan penyempitan katup aorta dan menghambat aliran darah dari jantung.
Dokter spesialis jantung intervensi SCVC, I Made Junior Rina Artha, menjelaskan kondisi tersebut secara rinci. Ia menyebut katup aorta berfungsi mengatur aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh. Namun, ketika katup menyempit, jantung harus bekerja lebih keras.
Akibatnya, beban kerja jantung meningkat dan memicu berbagai keluhan kesehatan.
“Baca Juga: PMI Dorong Donor Darah Aman Selama Ramadan“
Jantung Bekerja Lebih Keras Saat Katup Menyempit
Dalam kondisi normal, katup aorta membuka dan menutup dengan baik. Proses ini membantu darah mengalir lancar dari bilik kiri jantung. Namun, penyempitan katup mengganggu proses tersebut.
Karena itu, jantung memompa darah dengan tekanan lebih kuat. Seiring waktu, kondisi ini dapat melemahkan fungsi jantung. Selain itu, pasien juga mulai merasakan gejala yang mengganggu aktivitas.
Gejala Awal Sering Dianggap Kelelahan Biasa
Sayangnya, banyak orang tidak menyadari gejala awal aortic stenosis. Mereka sering menganggap keluhan sebagai tanda kelelahan atau faktor usia.
Padahal, beberapa gejala penting perlu diwaspadai sejak dini. Misalnya, pasien sering mengalami sesak napas saat beraktivitas. Selain itu, tubuh juga terasa cepat lelah meski melakukan aktivitas ringan.
Kemudian, pasien dapat merasakan nyeri atau tekanan di dada. Bahkan, sebagian orang mengalami pusing saat bergerak aktif.
Pusing dan Pingsan Bisa Menjadi Tanda Serius
Dalam kondisi tertentu, pasien mengalami pusing hingga hampir pingsan. Bahkan, beberapa kasus menunjukkan pasien bisa pingsan secara mendadak.
Hal ini terjadi karena aliran darah tidak memenuhi kebutuhan tubuh. Saat tubuh membutuhkan oksigen lebih banyak, jantung tidak mampu memenuhinya.
Akibatnya, otak dan organ lain kekurangan suplai darah. Kondisi ini kemudian memicu gejala pusing dan lemah.
Risiko Lebih Tinggi pada Usia Lanjut
Aortic stenosis lebih sering terjadi pada kelompok usia lanjut. Seiring bertambahnya usia, katup jantung mengalami penebalan dan pengerasan.
Proses ini terjadi secara alami dan berlangsung perlahan. Namun, kondisi tersebut tetap berbahaya jika tidak terdeteksi.
Selain itu, beberapa orang memiliki kelainan katup sejak lahir. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko penyempitan katup aorta.
Kesadaran Masyarakat Masih Rendah
Chief of Commercial and Operations Bali International Hospital, Dr. Noel Yeo, menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat. Banyak pasien datang berobat saat kondisi sudah parah.
Biasanya, pasien baru mencari bantuan saat aktivitas terganggu. Misalnya, mereka mengalami sesak napas yang semakin sering.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap gejala awal. Selain itu, pemeriksaan rutin juga menjadi langkah penting.
Pemeriksaan Dini Membantu Deteksi Lebih Cepat
Dokter dapat memeriksa kondisi jantung dengan metode sederhana. Pemeriksaan awal biasanya meliputi pemeriksaan fisik.
Selanjutnya, dokter dapat menggunakan alat seperti EKG atau ekokardiografi. Alat tersebut membantu menilai fungsi jantung secara detail.
Dengan pemeriksaan tersebut, dokter dapat mendeteksi masalah sejak awal. Oleh karena itu, pasien bisa mendapatkan penanganan lebih cepat.
Deteksi Dini Mencegah Komplikasi Berbahaya
CEO HKAM Group, Steven Tee, menekankan pentingnya deteksi dini. Ia menyebut diagnosis awal meningkatkan peluang penanganan yang tepat.
Jika pasien menunda pemeriksaan, risiko komplikasi akan meningkat. Penyempitan katup aorta dapat menyebabkan gagal jantung.
Selain itu, kondisi ini juga dapat memicu kematian mendadak. Oleh sebab itu, masyarakat perlu segera memeriksa diri saat muncul gejala.
Kenali Gejala Penyempitan Katup Aorta: Pemeriksaan Rutin Penting untuk Usia di Atas 60 Tahun
Kelompok usia di atas 60 tahun memiliki risiko lebih tinggi. Karena itu, mereka perlu melakukan pemeriksaan jantung secara rutin.
Langkah ini membantu mendeteksi gangguan sejak dini. Dengan begitu, dokter dapat memberikan penanganan yang lebih efektif.
Pada akhirnya, kesadaran dan tindakan cepat menjadi kunci menjaga kesehatan jantung.
“Baca Juga: Bahaya Makan Santan Berlebihan, Ini 5 Dampaknya“
