Medicalnews – Kesehatan pencernaan memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak. Sistem pencernaan yang sehat membantu tubuh menyerap nutrisi secara maksimal.
Namun, banyak anak masih mengalami gangguan pencernaan sejak usia dini. Kondisi ini dapat memengaruhi kenyamanan, pola makan, hingga kualitas tidur anak.
“Baca Juga: Dampak PMO Berlebihan terhadap Gairah dan Kesehatan Seksual“
Gangguan Pencernaan Masih Sering Terjadi pada Anak
Tinjauan ilmiah internasional pada 2022 menunjukkan bahwa sekitar satu dari lima anak di bawah usia empat tahun mengalami masalah pencernaan.
Penyanyi Anggi Marito juga pernah menghadapi kondisi serupa pada anaknya. Ia mengaku anaknya sering mengalami perut kembung dan Gerakan Tutup Mulut atau GTM.
Anggi melihat perubahan perilaku setiap kali gangguan pencernaan muncul. Anaknya menjadi lebih rewel dan sulit menerima makanan.
Selain itu, anaknya sering terbangun pada malam hari sambil menangis. Setelah mencari informasi, Anggi memahami hubungan antara pencernaan dan perilaku anak.
Ia kemudian mulai lebih memperhatikan kesehatan saluran cerna sang buah hati.
Pencernaan dan Otak Memiliki Hubungan Erat
Dokter spesialis anak Miza Afrizal menjelaskan bahwa saluran pencernaan memiliki hubungan langsung dengan otak.
Karena hubungan tersebut, gangguan pencernaan dapat memengaruhi suasana hati dan perilaku anak.
Saat perut anak terasa tidak nyaman, tubuh akan mengirim sinyal ke otak dengan cepat. Akibatnya, anak dapat menjadi lebih sensitif dan mudah rewel.
Anak juga bisa terlihat lebih manja atau terus mencari perhatian orang tua.
Menurut Miza, kondisi ini sering membingungkan orang tua. Banyak orang mengira anak hanya sedang rewel biasa.
Padahal, penyebab utamanya bisa berasal dari gangguan pencernaan.
Perut Kembung Dapat Menurunkan Nafsu Makan
Gangguan pencernaan tidak selalu menimbulkan muntah atau diare. Pada banyak kasus, gejalanya muncul melalui perubahan perilaku.
Anak yang mengalami perut kembung sering menolak makan atau minum. Mereka juga terlihat tidak nyaman sepanjang hari.
Selain itu, rasa penuh pada perut dapat menurunkan nafsu makan. Kondisi tersebut membuat anak sulit memenuhi kebutuhan nutrisi hariannya.
Gangguan pencernaan juga dapat mengganggu kualitas tidur. Anak yang kurang tidur biasanya menjadi lebih mudah marah dan sulit berkonsentrasi.
Keseimbangan Bakteri Baik Sangat Penting
Miza menjelaskan bahwa kesehatan pencernaan sangat bergantung pada keseimbangan bakteri baik di dalam usus.
Bakteri baik membantu proses pencernaan dan penyerapan nutrisi. Karena itu, orang tua perlu menjaga keseimbangan tersebut sejak dini.
Salah satu bakteri baik yang banyak diteliti adalah Lactobacillus reuteri. Bakteri ini dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan anak.
Selain itu, orang tua juga perlu memberikan makanan yang mengandung serat alami. Serat membantu menjaga kondisi usus tetap sehat.
Batasi Gula Tambahan untuk Menjaga Pencernaan
Miza mengingatkan orang tua agar tidak memberikan terlalu banyak gula tambahan kepada anak.
Konsumsi gula berlebihan dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik dalam usus.
Selain itu, makanan olahan berlebihan juga dapat memengaruhi kesehatan pencernaan.
Karena itu, orang tua sebaiknya lebih sering memberikan makanan segar dan bergizi.
Buah, sayur, dan makanan alami dapat membantu menjaga kesehatan saluran cerna anak.
Untuk anak berusia di atas dua tahun, konsumsi gula tambahan sebaiknya tidak melebihi 25 gram per hari.
Orang Tua Perlu Lebih Peka terhadap Tanda Awal
Gangguan pencernaan sering muncul melalui tanda sederhana. Anak bisa menjadi rewel, sulit makan, atau sulit tidur.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku anak setiap hari.
Semakin cepat masalah pencernaan terdeteksi, semakin mudah penanganannya.
Dengan menjaga pola makan sehat dan pencernaan yang baik, anak dapat tumbuh lebih nyaman, aktif, dan bahagia.
“Baca Juga: Gusi Bermasalah Bisa Picu Berbagai Gangguan Kesehatan“
