Medicalnews – Lupus menjadi salah satu penyakit autoimun yang sering luput dari deteksi dini. Penyakit ini memiliki gejala yang sangat beragam dan sering menyerupai penyakit lain.
Karena itu, banyak orang mengenal lupus sebagai “penyakit seribu wajah”. Setiap penderita dapat mengalami keluhan yang berbeda-beda.
Kondisi tersebut membuat dokter sering membutuhkan pemeriksaan lanjutan sebelum memastikan diagnosis lupus.
“Baca Juga: Dampak PMO Berlebihan terhadap Gairah dan Kesehatan Seksual“
Kisah Pasien yang Awalnya Diduga Mengalami DBD
Seorang perempuan berusia 21 tahun baru mengetahui dirinya mengidap lupus setelah enam bulan mengalami demam berulang.
Awalnya, dokter beberapa kali mendiagnosis pasien tersebut mengalami demam berdarah dengue atau DBD.
Namun, keluhan terus muncul meski telah menjalani pengobatan. Karena itu, dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan akhirnya mengarah pada diagnosis lupus. Selain demam, pasien juga mengalami kemerahan pada kulit saat terkena sinar matahari.
Mengapa Penyakit Ini Disebut Lupus?
Istilah lupus berasal dari bahasa Latin yang berarti serigala.
Nama tersebut muncul karena gejala khas berupa ruam merah pada wajah. Pada masa lalu, orang menganggap ruam itu menyerupai bekas gigitan serigala.
Saat ini, dokter mengenal gejala tersebut sebagai butterfly rash atau ruam kupu-kupu.
Ruam biasanya muncul pada kedua pipi dan batang hidung. Bentuknya menyerupai sayap kupu-kupu yang terbentang.
Lupus Dapat Menyerang Banyak Organ Tubuh
Lupus termasuk penyakit sistemik. Artinya, penyakit ini dapat menyerang berbagai bagian tubuh sekaligus.
Sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang jaringan sehat.
Akibatnya, peradangan dapat terjadi pada kulit, sendi, darah, ginjal, paru-paru, jantung, hingga sistem saraf.
Tingkat keparahan penyakit juga berbeda pada setiap penderita.
Gejala Lupus yang Perlu Diwaspadai
Lupus sering menimbulkan gejala yang mirip dengan penyakit lain. Karena itu, masyarakat perlu mengenali tanda-tandanya sejak dini.
Beberapa gejala yang sering muncul meliputi:
- Nyeri atau pembengkakan sendi lebih dari tiga bulan.
- Sariawan yang berlangsung lebih dari dua minggu.
- Ruam merah berbentuk kupu-kupu di wajah.
- Kulit mudah memerah saat terkena sinar matahari.
- Demam berkepanjangan tanpa penyebab jelas.
- Protein dalam urine akibat gangguan ginjal.
- Kejang tanpa penyebab tertentu.
- Tubuh mudah lelah meski sudah beristirahat cukup.
Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu menunjukkan lupus. Karena itu, dokter perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan diagnosis.
Faktor yang Dapat Memicu Lupus
Hingga saat ini, para ahli belum menemukan penyebab pasti lupus.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa lupus muncul akibat kombinasi beberapa faktor.
Faktor tersebut meliputi:
- Riwayat genetik atau keturunan.
- Paparan sinar ultraviolet berlebihan.
- Infeksi virus tertentu.
- Paparan bahan kimia tertentu.
- Kebiasaan merokok.
- Faktor hormonal.
Karena pengaruh hormon, lupus lebih sering menyerang perempuan usia produktif dibandingkan laki-laki.
Bisakah Lupus Disembuhkan?
Lupus termasuk penyakit kronis yang belum dapat disembuhkan sepenuhnya.
Namun, dokter dapat mengendalikan aktivitas penyakit melalui pengobatan yang tepat.
Banyak penderita tetap dapat bekerja, belajar, dan menjalani aktivitas normal setelah mendapatkan terapi yang sesuai.
Penyakit ini juga memiliki fase naik dan turun. Gejala dapat mereda dalam waktu tertentu, lalu muncul kembali ketika ada pemicu tertentu.
Dokter biasanya memberikan obat untuk menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh yang berlebihan.
Selain itu, dokter dapat memberikan terapi tambahan sesuai kondisi masing-masing pasien.
Gaya Hidup Sehat Membantu Mengendalikan Lupus
Selain pengobatan, penderita juga perlu menjalani gaya hidup sehat.
Penderita perlu mengonsumsi makanan bergizi setiap hari. Mereka juga perlu menjaga kualitas tidur dan mengelola stres dengan baik.
Aktivitas fisik ringan secara rutin juga membantu menjaga kondisi tubuh tetap bugar.
Selain itu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat membantu proses pengobatan jangka panjang.
Deteksi Dini Menjadi Kunci Penanganan
Deteksi dini memegang peran penting dalam penanganan lupus.
Semakin cepat dokter menemukan penyakit ini, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan organ.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mengabaikan gejala yang muncul berulang atau berlangsung lama.
Pemeriksaan sejak awal dapat membantu penderita mendapatkan pengobatan yang tepat dan mempertahankan kualitas hidup lebih baik.
“Baca Juga: Strategi Baru Lawan Malaria, Fokus pada Pencegahan“
