Kesehatan Kemenkes: Obesitas Picu Risiko Penyakit Kronis

Kemenkes: Obesitas Picu Risiko Penyakit Kronis

Kemenkes Obesitas Picu Risiko Penyakit Kronis

Medicalnews –  Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengingatkan masyarakat tentang bahaya obesitas. Ia menegaskan bahwa obesitas bukan sekadar masalah bentuk tubuh.

Ia menjelaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis. Selain itu, kondisi ini dapat memicu berbagai penyakit serius. Ia menyebut obesitas sebagai sumber berbagai penyakit.

Menurutnya, obesitas dapat berkembang menjadi diabetes, hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke. Oleh karena itu, masyarakat perlu menjaga berat badan sejak dini.

“Baca Juga: Bahaya Makan Santan Berlebihan, Ini 5 Dampaknya“

Keseimbangan Kalori Jadi Kunci Utama

Nadia menjelaskan bahwa prinsip obesitas cukup sederhana. Tubuh harus menjaga keseimbangan antara kalori yang masuk dan keluar.

Selain itu, masyarakat harus memperhatikan komposisi makanan. Mereka perlu mengatur jumlah protein, karbohidrat, dan lemak.

Jika seseorang mengonsumsi kalori berlebih, tubuh akan menyimpan lemak. Lama-kelamaan, lemak akan menumpuk dan memicu kenaikan berat badan.

Lemak Berlebih Bisa Menyerang Organ Tubuh

Pada awalnya, tubuh menyimpan lemak di bawah kulit. Lemak biasanya menumpuk di area perut.

Namun, ketika kapasitas penyimpanan penuh, lemak mulai masuk ke organ tubuh. Kondisi ini sangat berbahaya bagi kesehatan.

Nadia menjelaskan bahwa kondisi tersebut sering disebut perlemakan hati. Lemak tidak lagi tersimpan di jaringan, tetapi masuk ke organ penting.

Akibatnya, fungsi organ bisa terganggu. Risiko penyakit serius pun meningkat.

Angka Obesitas di Indonesia Terus Naik

Nadia mengungkapkan bahwa angka obesitas nasional terus meningkat. Data menunjukkan kenaikan dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023.

Selain itu, hasil skrining terhadap 33 juta orang menunjukkan sekitar 7 juta mengalami obesitas. Angka ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Ia menilai kondisi ini sebagai sinyal peningkatan risiko penyakit kronis. Jika tidak dikendalikan, dampaknya akan semakin besar.

Selain itu, beban ekonomi dan sosial juga akan meningkat. Oleh sebab itu, pencegahan harus dilakukan sejak sekarang.

Pola Makan dan Pangan Olahan Perlu Dikontrol

Nadia menjelaskan bahwa banyak kalori berasal dari makanan olahan. Namun, masalah utama bukan hanya jenis makanan.

Ia menekankan bahwa konsumsi berlebihan menjadi faktor utama. Selain itu, banyak orang tidak mengontrol porsi makan.

Ia juga mengingatkan bahaya makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Konsumsi berlebihan dapat memicu lonjakan gula darah berulang.

Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko resistensi insulin. Risiko diabetes juga meningkat, terutama jika ada riwayat keluarga.

Gaya Hidup Kurang Aktif Perparah Kondisi

Nadia menilai gaya hidup kurang aktif mempercepat obesitas. Banyak orang menghabiskan waktu dengan duduk terlalu lama.

Selain itu, masyarakat jarang berolahraga. Kemudahan layanan pesan makanan juga memperburuk kondisi.

Akibatnya, kalori terus masuk tanpa terbakar. Kondisi ini menyebabkan berat badan meningkat secara bertahap.

Edukasi Gizi Jadi Kunci Pencegahan

Direktur South-East Asia Food and Agricultural Science and Technology Center IPB, Puspo Edi Giriwono, memberikan pandangan tambahan.

Ia menjelaskan bahwa pangan olahan tidak selalu berdampak negatif. Pangan olahan merupakan bagian dari sistem pangan modern.

Namun, masyarakat perlu memahami informasi pada kemasan. Dengan demikian, mereka bisa memilih makanan secara bijak.

Ia juga menekankan pentingnya literasi gizi. Tanpa pemahaman yang baik, masyarakat bisa salah dalam mengonsumsi makanan.

Langkah Sederhana untuk Cegah Obesitas

Nadia menyarankan langkah sederhana untuk mencegah obesitas. Masyarakat perlu membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak.

Ia menyarankan konsumsi gula maksimal 50 gram per hari. Selain itu, konsumsi garam dibatasi 5 gram dan lemak 67 gram.

Selain itu, masyarakat perlu membaca label gizi pada kemasan. Langkah ini membantu mengontrol asupan harian.

Ia juga menyarankan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari. Perubahan bisa dimulai secara bertahap.

Jika masyarakat tidak mengubah pola hidup, tren obesitas akan terus meningkat. Dampaknya akan terlihat pada lonjakan penyakit kronis di masa depan.

“Baca Juga: Bahaya Makan Santan Berlebihan, Ini 5 Dampaknya“

32 thoughts on “Kemenkes: Obesitas Picu Risiko Penyakit Kronis”

  1. Great, I should certainly pronounce, impressed with your site. I had no trouble navigating through all the tabs as well as related info ended up being truly easy to do to access. I recently found what I hoped for before you know it in the least. Reasonably unusual. Is likely to appreciate it for those who add forums or something, website theme . a tones way for your customer to communicate. Excellent task.

  2. Website ini benar-benar merupakan penjelasan menyeluruh untuk semua informasi yang Anda inginkan tentang hal ini dan tidak tahu kepada siapa harus bertanya. Lihat sekilas di sini, dan Anda pasti akan menemukannya.

  3. We stumbled over here coming from a different website and thought I might check things out. I like what I see so now i’m following you. Look forward to finding out about your web page for a second time.

  4. Hei di sana, kamu sudah melakukan pekerjaan yang mengagumkan. Saya pasti akan mem-bookmark ini dan kembali untuk melihat konten lainnya. Terima kasih banyak!

  5. Saya menemukan blog Anda di Google dan memeriksa beberapa posting awal Anda. Teruskan pekerjaan yang sangat baik ini. Saya baru saja menambahkan RSS feed Anda ke pembaca berita MSN saya. Menantikan untuk membaca lebih banyak dari Anda nanti!

  6. Ini adalah saran yang sangat bagus, terutama bagi mereka yang baru di dunia blog, informasi yang ringkas dan akurat… Terima kasih telah berbagi ini. Artikel yang harus dibaca.

  7. Konten yang berguna dan disajikan dengan sangat baik. Saya tentu akan membagikan ini kepada orang lain. Terima kasih banyak telah berbagi.

  8. I’ll right away grab your rss as I can’t to find your e-mail subscription hyperlink or newsletter service. Do you have any? Please permit me recognize in order that I could subscribe. Thanks.

  9. Thanks a bunch for sharing this with all people you actually know what you’re talking approximately! Bookmarked. Kindly also consult with my web site =). We may have a link change contract among us!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post